Isu-Isu yang Menghambat Regionalisme Afrika

Label: , , , , ,

Afrika, sekalipun mayoritas negara yang tergabung di dalamnya adalah negara terbelakang, saat ini sedang mengalami pertumbuhan dalam segi ekonomi secara perlahan tapi pasti. Saat ini perekonomian di Afrika sedang mengalami pertumbuhan sebesar 5,4% setingkat dengan pertumbuhan global. Sejumlah negara di Afrika bahkan menunjukkan pertumbuhan ekonomi setingkat dengan negara-negara berkembang dan ada juga yang me-nunjukkan angka pertumbuhan ekonomi melebihi beberapa negara maju.

Akan tetapi pertumbuhan perekonomian yang tidak merata dan hanya didominasi oleh negara-negara pengekspor minyak seperti Afrika Selatan dan Nigeria dapat menyebabkan perpecahan dalam regional yang sudah rentan tersebut. Di Sub-Sahara Afrika, 37 dari 48 negara yang ada merupakan negara-negara berpenghasilan rendah, dengan pendapatan perkapita dibawah $785. Oleh karena itu, Afrika otomatis juga paling terakhir terkena dampak dari ketidakstabilan arsitektur finansial dunia. Pada dasarnya kondisi Afrika sub Sahara yang tidak stabil merupakan salah satu aspek utama yang mengganggu aliran investasi. Infrastruktur yang tidak memadai dan biaya ekspor dari Afrika yang mahal juga dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi regional tersebut secara keseluruhan. Apabila hal-hal tersebut tidak segera diatasi, maka pertumbuhan ekonomi antara negara kaya di Afrika dengan negara miskin akan semakin melebar sementara pertumbuhan ekonomi regional akan semakin menurun.

Untuk mengatasi isu diatas, dibentuklah beberapa organisasi regional di Afrika seperti Common Market of Eastern and Southern Africa (COMESA), the Economic Community of West African States (ECOWAS), the Southern African Development Community (SADC), African Economic Community (AEC), dan African Union. Dari sini fokus akan mengarah kepada African Union yang merupakan salah satu sampel terpopuler dalam regionalisme Afrika.

Salah satu kasus yang paling mengganjal dalam perkembangan integrasi yang diusahakan oleh AU adalah kasus yang sedang dihadapi oleh Sudan. AU berusaha melakukan monitoring dan memfasilitasi dialog politik antara pemerintahan Sudan dengan SPLM. Akan tetapi respon yang lambat, keterbatasan mandat serta permasalahan logistik dan finansial dari internal organisasi AU sendiri menjadikan misi AU atas Sudan tidak efisien. Padahal apabila permasalahan internal Sudan dapat diatasi dapat diprediksikan bahwa integrasi dalam lingkup regional kawasan Afrika juga akan membaik secara perlahan. Dan apabila negara-negara lain di Afrika dapat mengatasi permasalahan yang serupa, maka integrasi di Afrika dapat benar-benar terwujud sehingga fungsi-fungsi organisasi-organisasi regional seperti African Union pun dapat berjalan di arah yang benar. Integrasi tersebut dapat mendorong perkembangan yang lebih luas lagi terutama di bidang perekonomian karena fokus dari pemerintahan negara-negara Afrika tidak lagi terhadap permasalahan perang. Integrasi dalam kawasan Afrika juga dapat mendorong meningkatnya kerjasama dalam bidang ekonomi serta mendorong masuknya investasi asing.


Sumber:
Shaw,Timothy M.,2000,’New Regionalisms in Afrika in the New Millenium : Comparative Perspective on Renaissance, Realisms and / or Regressions’,in New Political Economy,Vol.5,No.3
Bach, Daniel. 2003. ’The Global Politics of Regionalism:Afrika’, in Farrel,Mary,et al, Global Politics of Regionalism. Pluto Press: London.

0 komentar:

Post a Comment